Under the Cherry Blossom
Nando menegak minumannya sampai habis sambil mengamati perempuan
yang berada tak jauh di depannya. Tenggorokannya terasa kering setelah
berkali-kali memangilnya tapi perempuan itu sama sekali tak mendengar
teriakannya. Setelah berhasil mengosongkan botol minumnya, Nando mencoba
memanggil sekali lagi.
"Adelia….." tetap saja perempuan bernama Adelia itu tidak
merespon panggilannya. Dia malah mendapatkan tatapan tidak suka dari orang Jepang
yang berada di sampingnya.
"Gomenasai"1 kata Nando kepada orang Jepang yang merasa terganggu dengan
teriakannya itu.
Dengan sedikit berlari akhirnya Nando menghampiri Adelia yang sedang
asyik mengobrol dengan cowok Jepang. Adelia melambaikan tangannya saat melihat
Nando berjalan ke arahnya.
"Mizuki, he is Nando and Nando, he is Mizuki from Hamamatsu,
Japan" Adelia memperkenalkan cowok Jepang itu kepada Nando.
"Is he your boyfriend?" tanya Mizuki.
"No, just my bestfriend" jawab Adelia sambil tersenyum.
Nando tadinya berharap Adelia menjawab iya karena dia tidak suka dengan Mizuki
yang sepertinya menyukai Adelia.
"De, pulang yuk sudah sore. Perut gue juga sudah keroncongan
pengin diisi makanan" ajak Nando sambil mengelus perutnya.
"Fotoin gue sama Mizuki dulu ya setelah itu kita pulang!"
Adelia menyerahkan kameranya kepada Nando yang diterima dengan tidak semangat.
"Ah shashin....kore kore!"2 kata Mizuki saat melihat
kamera Adelia. Dia juga mengeluarkan kameranya dari dalam tas dan diserahkan
kepada Nando.
Selesai foto, Adelia pamitan kepada Mizuki "Nice to meet you Mizuki and thanks for the information about
Japan. Now we have to go back to the hotel because it was already late in the
afternoon."3
"Hai, mata aimashio! And
nice to meet you too"4 kata Mizuki sambil membungkuk
memberi salam. Nando dan Adelia ikut membungkuk membalas salamnya sebelum
beranjak pergi.
"Adelia...Hai matte o!"5 baru berjalan beberapa langkah tiba-tiba Mizuki
memanggil Adelia, "kore wo meishi
watashi."6
Adelia menerima kartu nama itu dengan senang hati, dia pun mengambil
kartu namanya sendiri dan diberikan kepada Mizuki, "If you go to
Indonesia, please call my phone number!" kata Adelia.
"Okay, arigatou Adelia"7 kata Mizuki sambil membungkuk seperti tadi.
Sebelum masuk hotel Nando mengajak Adelia mampir ke kafe kecil untuk
membeli minuman dingin dan cemilan pengganjal perut. Banyak sekali pilihan
makanan di kafe ini dan semuanya terlihat enak, mulai dari mochi-mochi yang
sudah banyak dijual di Indonesia sampai sejenis makanan mirip pizza dengan
berbagai topping yang diberi label nama okonomiyaki. Pilihan Nando jatuh pada
makanan berbentuk bola-bola kecil yang sepertinya dibuat dari adonan tepung
terigu. Tapi dia ragu untuk mengambil makanan yang bernama takoyaki itu.
“Ehm…De tanyain dong! Ada babinya nggak?” bisik Nando kepada Adelia
yang memang sedikit lancar bahasa Jepangnya.
“Tanya aja sendiri!” jawab Adelia sambil sibuk memilih mochi-mochi.
“Yah...bahasa Jepang gue kan payah, yang ada mereka nggak ngerti
lagi gue ngomong apa” jawab Nando dengan muka memelas.
“Makanya bawa kamus dong!” kata Adelia sambil melambaikan tangan ke
kasir memanggil petugas.
“Ngapain bawa kamus kalau ada kamus berjalan kaya lo” kata Nando
sambil tertawa melihat muka Adelia yang meliriknya dengan kesal.
“Sumimasen ga, kono
sandoichi no naka wa butaniku desuka?”8
Tanya Adelia kepada petugas toko.
“Lie, sakana desu”9 jawab penjaga toko itu.
Nando pun akhirnya jadi membeli takoyaki berisi ikan tersebut yang
dikemas dengan lembaran plastik berbentuk perahu berisi enam buah takoyaki.
Sedangkan Adelia membeli enam buah mochi untuk mengganjal perutnya sebelum
makan malam nanti. Selama ini dia hanya merasakan mochi-mochi buatan orang
Indonesia, kali ini dia akhirnya berkesempatan merasakan kue tradisional Jepang
ini di tempat asalnya dan rasanya memang jauh lebih lembut dan berasa ketannya.
“Itte rassahai kaeri”10 kata resepsionist hotel menyambut kedatangan Nando dan Adelia.
Nando tersenyum sopan membalas sapaan resepsionist itu, berbeda
dengan Adelia yang melirik sebal kepadanya. Adelia tidak suka dengan cewek
resepsionist itu dari pertama kedatangan mereka di Plaza Hotel Kissuien, tempat
mereka menginap yang berada di Kyotango, Kyoto. Dari caranya tersenyum Adelia
tahu kalau resepsionist itu naksir Nando. Dia akan tersenyum sangat manis jika
Nando mengajaknya bicara sedangkan kalau Adelia bertanya kepadanya, dia akan
pura-pura sibuk dan menjawab seperlunya saja. Nando tidak putih, kulitnya
kuning langsat dengan tubuh tinggi dan tegab seperti perwira, setiap dia
tersenyum akan kelihatan lesung pipitnya dan itu membuat setiap perempuan yang
melihatnya akan terpesona.
“Nanti gue tunggu di bawah ya, Lo jangan lama-lama mandinya! Satu
jam dari sekarang kalau Lo belum turun itu tandanya Lo harus siap gue tinggal”
kata Nando sebelum Adelia memasuki kamarnya yang terpisah dua pintu dari kamar
Nando.
“Tinggal aja! Gue bisa kok jalan sendiri. Lagian bahasa Jepang gue
cukup membantu jadi gue nggak bakalan nyasar” balas Adelia sambil mencibir
kepada Nando, lalu buru-buru masuk ke kamarnya.
Tentu saja Nando tidak benar-benar
berniat meninggalkan Adelia, biar bagaimanapun Adelia telah berhasil menjadi
penerjemah bahasa dalam perjalanan kali ini. Ingatannya tak sekuat Adelia untuk
mengingat pelajaran Jepang saat sekolah dulu. Tapi alasan Nando mengajak Adelia
ke Jepang bukan karena Adelia bisa bahasa Jepang, Nando memang sudah merencanakan
perjalanan ini semenjak mengenal Adelia pertama kali. Adelia adalah satu dari
sekian banyak orang yang sangat mengagumi Jepang. Cita-citanya bisa pergi ke
Jepang dengan orang yang dia sayangi untuk melihat bunga sakura mekar. Nando
sendiri tidak yakin apakah Adelia menyayanginya atau tidak, mereka sudah
bersahabat sepuluh tahun dari saat masuk SMA dan selalu mendapat kelas yang
sama sampai sekarang saat mereka sudah sama-sama mendapat pekerjaan yang mapan.
Hari ini adalah hari ketiga mereka
di Jepang, Adelia hanya mendapat cuti lima hari dari kantornya jadi hari kelima
mereka harus sudah kembali ke Indonesia. Kalau saja Nando tidak bekerja di
salah satu agen maskapai penerbangan, mungkin rencana mengajak Adelia ke Jepang
masih tertunda sampai tabungan Nando benar-benar cukup. Untungnya pemilik agen
tersebut berbaik hati memberikan sedikit potongan biaya tiket keberangkatan ke
Jepang.
Rencana Nando ke Jepang sebenarnya
bukan hanya ingin memperlihatkan bunga sakura yang mekar di musim semi kepada Adelia.
Tapi Nando juga ingin mengungkapkan perasaan yang selama ini dipendamnya kepada
Adelia. Sepuluh tahun baginya sudah cukup untuk mengenal Adelia sebagai
sahabatnya. Dari semenjak pertama kali mereka bertemu, Nando sudah menyukai
Adelia dan tertarik dengan semua yang dilakukannya. Tapi dia tidak pernah berani untuk mengungkapkannya, terlalu banyak
yang menyukai Adelia tapi tak ada satupun yang diterima olehnya dan Nando pun
tidak mau bernasip sama seperti mereka. Tapi kali ini di Negeri sakura yang dikagumi
Adelia, dia akan mengungkapkan semua isi hatinya dan mengajak Adelia untuk
menjalin hubungan yang lebih serius.
“Buta
niku dame!”11 kata Adelia kepada pelayan restoran tempat dia dan
Nando akan menyantap makan malam. Pelayan itu mengangguk mengerti dan segera
pergi untuk menyiapakan pesanan mereka. Kali ini Adelia ingin mencoba yakiniku12 ala Jepang
sedangkan Nando mengiyakan saja saat Adelia memesankan sukiyaki13 untuknya.
“Nanti lo jangan lupa pakai wasabinya14 tapi jangan
banyak-banyak! Gue jamin wasabi Jepang pasti lebih pedas dari sambal buatan
nyokap gue” kata Adelia bersemangat, “Oh ya besok kita mau kemana?”
“Besok kita harus bangun pagi, gue
pengin ngajak lo ikut hanami bersama warga Kyoto.”
Adelia terdiam sebentar lalu segera
tersenyum senang kepada Nando, sudah lama dia ingin merasakan hanami atau
jalan-jalan diantara bunga sakura yang bertebaran di sepanjang jalan. Musim
semi di Jepang yang dimulai dari awal Maret sampai pertengahan Juni ini adalah
musim dimana bunga sakura akan mekar. Di musim ini rakyat Jepang tidak akan
melewatkan mekarnya bunga sakura yang hanya berlangsung selama satu minggu.
Selain itu akan banyak digelar festival sakura pada hari pertama mekar yang
disebut kaika.
“Bagaimana kalau kita ke Osaka? The
Osaka Mint Bureau yang dekat sungai Okawa itu kalau musim semi dibuka gratis
untuk umum. Kita bisa naik Shinkansen15 dari stasiun Kyoto” kata Adelia sedikit
memohon kepada Nando.
“Ehm…perjalanan kesana cukup memakan
waktu De. Lagian di Kyoto juga banyak tempat bagus kok buat hanami. Pokoknya lo
percaya deh sama gue kalau lo nggak bakalan nyesel hanamian di Kyoto bareng
gue” kata Nando dengan percaya diri, “Oh ya tadi lo ngobrolin apa sama cowok
Jepang tadi?”
“Maksud lo Mizuki?” Adelia menjawab
sambil menyumpit yakinikunya, “Mizuki cerita banyak tentang Jepang terutama
tempat tinggalnya di Hamamatsu. Dia juga memberiku cemilan khas kotanya,
namanya unagi-pie16. Tadi sengaja gue tinggal di hotel buat
cemilan nanti kalau tiba-tiba gue lapar lagi.”
“Oh, kayanya di suka sama…” Nando
tidak sempat menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba saja mulutnya terasa
menyengat dan panas. Dia buru-buru meneguk air minumnya tapi rasa menyengat itu
tidak mau hilang juga. Adelia yang melihat wajah Nando semakin merah karena menahan
rasa panas dan pedas yang dirasakan mulutnya malah tertawa geli dan segera
memfoto ekspresi muka Nando.
“Gue kan dah bilang jangan
banyak-banyak ngambil wasabinya. Mizu o
motte kurete17!” serunya kepada pelayan restoran sambil menahan
tawa.
Selesai makan malam Adelia langsung
kembali ke hotel, tadinya dia ingin ikut Nando menikmati udara malam di sekitar
Kyotango tapi badannya terasa lelah sekali dan dia juga ingin menyimpan
tenaganya untuk hanami besok. Terasa cepat sekali waktu berjalan sampai-sampai
Adelia lupa kalau besok adalah hari terakhirnya di Jepang padahal dia masih
ingin lebih lama lagi berada disini karena belum banyak tempat-tempat yang dia
kunjungi. Kemarin dia dan Nando mengunjungi kuil-kuil yang berada di Kyoto
sedangkan tadi mereka mengunjungi Taman Studio Kyoto yang hampir sama dengan
Universal Studio di Australia. Pulangnya mereka menyejukkan diri ke pantai
Kotobikihama yang berada tidak jauh dari Plaza Hotel Kissuien.
Adelia mengambil kameranya dan
melihat lagi foto hasil jepretannya bersama Nando. Sesekali dia tersenyum saat
melihat foto Nando yang bergaya dengan berbagai ekspresi. Jarinya berhenti saat
kameranya memunculkan foto dia dan Nando memakai kostum pengantin Jepang di
Taman Studio Kyoto. Awalnya dia tidak mau dan sedikit malu saat Nando
mengajaknya berfoto dengan kostum pengantin itu tapi Nando akhirnya berhasil
membujuknya. Nando terlihat lebih ganteng dengan kostum tersebut biarpun agak
sedikit kebesaran.
Kadang Adelia masih belum percaya
kalau saat ini dia berada di Jepang bersama Nando, cowok yang saat ini jadi
sahabatnya dan sangat dia kagumi. Dulu dia memang sempat bercanda mengatakan
kepada Nando bahwa ingin pergi ke Jepang bersama orang yang dia sayangi. Dan
sekarang dia merasa candaannya itu dikabulkan oleh Tuhan. Biarpun mungkin orang
yang saat ini disayanginya itu tidak tahu kalau dia menyanyanginya.
Jam tangan Nando masih menunjukkan
pukul tujuh lewat sepuluh menit, tapi suasana di lobi dan di luar hotel sudah
rame. Mekarnya bunga sakura atau sering disebut juga dengan Cherry Blossom
telah berhasil membuat warga Kyoto dan para turis bangun lebih pagi untuk
menyambutnya.
Nando disambut Adelia yang sudah
siap menunggu di halaman hotel dari setengah jam yang lalu. Tangannya sibuk
memotret kanan kiri sambil sesekali tersenyum kepada orang Jepang yang lewat di
depannya.
“Ok come on Nando…..We see the cherry
blossom!” kata Adelia dengan penuh semangat. Dia berjanji tidak akan pernah
melupakan hari ini sebagai hari pertama dia menyambut mekarnya bunga sakura.
Tempat pertama yang mereka kunjungi
adalah Arashiyama yang terletak di sebelah barat koto Kyoto. Di wilayah
Arashiyama ada sebuah kuil yang bernama Tenryuji, di sekitar kuil itu ada
banyak sekali toko-toko kecil yang menjual souvenir Jepang. Untuk masuk ke
dalam kuilnya harus membayar 100 yen atau sekitar 7500 tiap orang. Adelia lebih
tertarik berdiri di atas jembatan Togetsukyo yang dibawahnya mengalir sungai
kecil daripada masuk ke dalam kuil. Di belakang jembatan itu terdapat gunung
yang ditumbuhi banyak pohon yang membuat gunung itu menyerupai hutan. Sedangkan
bunga sakura banyak tumbuh di tepi sungai yang tidak jauh dari jembatan. Nando
tersenyum memperhatikan Adelia yang berdiri
di bawah pohon-pohon sakura itu. Rambutnya yang tergerai tertiup angin
membuatnya tambah manis.
Dari Arashiyama menjelang tengah
hari mereka menuju Philosopher’s Path yang tak kalah cantik pemandangan
sakuranya. Ratusan pohon sakura berbaris indah di jalanan pinggir kanal yang
membuat kuil-kuil di sekitar jalan tersebut tampak terlihat indah pula.
Berkali-kali Adelia minta difoto di bawah pohon sakura padahal semua sakura
yang berada disitu hampir sama bentuk dan ukurannya.
“Thanks ya Nan, berkat lo akhirnya
gue bisa juga melihat sakura mekar dengan indah kaya gini” kata Adelia saat
mereka sedang istirahat di sebuah kafe. Mereka sengaja memilih makan di meja
yang terletak di luar kafe yang
dikelilingi pohon sakura.
“Gue seneng kok bisa ada disini sama
lo dan jadi bagian dalam mewujudkan cita-cita lo” kata Nando sambil tak lepas
menatap Adelia yang masih sibuk mengambil gambar pohon sakura dari berbagai
sisi, “Gue masih punya satu tempat lagi yang harus dikunjungi dan gue harap lo
suka.”
“Dimana?” tanya Adelia segera
menghentikan aktivitasnya dan duduk di depan Nando. Tapi Nando hanya tersenyum
menjawab pertanyaan Adelia.
Biarpun hari sudah larut sore tapi
masyrakat Kyoto masih asyik menikmati hari sakura ini dengan duduk-duduk santai
sambil mengobrol dengan teman maupun keluarganya di Maruyama Park yang terletak
tidak jauh dari Philosopher’s Path.
“Lo benar Nan, Kyoto memang nggak
kalah indah sama Osaka. Gue nggak bakalan nyesel karena nggak jadi pergi ke
Osaka” Adelia benar-benar dibuat kagum dengan keramaian di Maruyama Park.
Dari segi banyaknya pohon, Philosopher’s
Path memang lebih banyak sakuranya daripada Maruyama tapi itu tidak membuat
keindahan Maruyama berkurang. Nando mengajak Adelia mengelilingi taman, ada
banyak sekali penjual makanan berjajar di salah satu sudut taman. Tak ada atap
yang menaungi para penjual dan pembeli makanan tersebut, meja-meja ditata rapi
di bawah pohon sakura dan mereka makan dengan santai di bawahnya dengan
diiringi musik tradisional Jepang. Nando mengajak Adelia duduk di salah satu
sudut yang agak sepi. Karena belum merasa lapar lagi, mereka hanya memesan ocha18 dingin.
“Gimana perasaan kamu hari ini, De?”
Tanya Nando yang mungkin terbawa suasana romantis di taman ini sehingga dia
jadi beraku kamu kepada Adelia.
Adelia yang sedari tadi
memperhatikan orang-orang di sekitarnya, sedikit kaget saat Nando mengajaknya
bicara, “Gue hari ini senang banget dan ini semua karena lo, Nan. Makasih banget
ya buat hari ini…gue benar-benar bahagia bisa berada disini sama lo.”
Adelia kaget dengan ucapannya
sendiri secara tidak langsung dia telah mengungkapkan perasaannya kepada Nando,
dia pun hanya bisa menundukkan kepala dan tidak berani menatap Nando
Nando tersenyum dan menghembuskan
nafasnya sebelum akhirnya menggegam jemari Adelia, “Aku juga bahagia berada
disini sama kamu De. Dan aku berharap suatu hari nanti bisa berada di tempat
ini lagi bersama kamu. Bukan hanya disini saja tapi di tempat lain dimana kita
bisa selalu bersama.”
Nando menyentuh dagu Adelia dan
mengangkatnya agar mereka bisa bertatapan, “Aku sudah lama cinta kamu De…..”
Adelia tersenyum dan ikut menggegam
tangan Nando, “Aku akan selalu bersamamu dimanapun dan kapan pun kamu berada. Aku
juga cinta kamu, Nan…”
Alunan musik Jepang kini berganti dengan alunan lagu cinta yang
mengalun lembut dari hati Nando dan Adelia.
***

Komentar
Posting Komentar