Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2015

Kau Puisi

Gambar
picture courtesy of instagram.com/amrazing Kau adalah puisi yang dirangkai indah d an dialunkan dengan merdu Jemari lincah memainkan tuts tuts piano, m engiringi setiap bait lirik Mata terpejam dan bibir berucap sambil tersenyum Menghayati setiap makna dalam setiap kalimatnya Disini… Di ruangan ramai tak terperi Aku bagai sendiri dan menyendiri Tak ada siapa pun kudengar Walaupun suara-suara bising, berteriak dan menjerit ada di sekelilingku Aku tak mendengarnya.... Karena aku hanya mendengar suara puisi y ang mengalun lembut di telingaku Membayangi pikiranku, m enemaniku dalam langkah Kau adalah puisi..... Puisi berjiwa lembut, menebar aroma manis dan mengalun indah...

Surat Cinta Untuk Ray - Part 1

Gambar
Picture courtesy of www.tersenyumlah.com Jakarta, 9 September 2003 Ray, aku jatuh cinta padamu. Entah sejak kapan aku merasakannya. Bahkan aku masih belum benar-benar mengerti cinta itu apa. Yang aku tahu ketika kita memikirkan seseorang setiap waktu, bahkan tidak bisa terlelap setiap malam karena terlalu sibuk memandangi fotonya, itu namanya kita sedang jatuh cinta. Setiap malam aku bertanya tanya apakah kamu memikirkanku juga. Setiap hari mataku tak lepas menatap gerak gerikmu dan tak bosan menunggu tawamu.   Kamu tak akan pernah curiga padaku dan tak akan pernah menghindariku. Walaupun banyak orang mengatakan kita pacaran, kamu pun juga akan tertawa sambil mengacak rambutku. Aku menyukai suasana seperti itu, tapi beribu ribu kali kamu akan mengatakan bahwa aku adalah adik kesayanganmu. Sampai kapan ray? Sampai kapan aku menjadi adik kesayanganmu? Sampai kamu menyadari perasaanku? Atau sampai kamu bertemu dengan seseorang lain yang kamu sayangi? Sudah 6 tahun...

Benda Mungil

Gambar
picture courtesy of internet sehat.id Di era modern ini, kita semua diperbudak oleh benda mungil, tipis, bercahaya dan enteng dibawa. Benda mungil yang bisa membawa kita menatap dunia tanpa mengujunginya. Benda mungil yang berhasil mempertemukan orang-orang yang bahkan tak pernah berjumpa sama sekali. Mereka saling berjabat semu, tersenyum, menyapa dan bercerita banyak hal tanpa berucap. Aku juga tak percaya, bahwa aku pun juga diperbudak olehnya. Benda mati tapi seolah hidup dan dijadikan nomer satu oleh banyak orang. Benda mungil yang ketika hilang pasti akan membuat pemiliknya pusing sepuluh keliling, meronta-ronta dan berteriak seperti kehilangan anak. Benda itu bernama smartphone. Ponsel pintar pembawa kemajuan, kepopuleran, kejeniusan dan juga mala petaka. Aku berterima kasih pada pencetusnya pertama kali. Segala sesuatu jadi lebih mudah setelah ia muncul di peradaban sekarang. Dari pertama kemunculannya, aku  sungguh mengaguminya. Menimang-nimangnya, karena a...

Promise

Ada satu pesan yang kuingat darimu saat tirai bambu itu perlahan kututup. Masih tergambar jelas raut sedih bahagiamu. Kamu tersenyum dibalik ketidak relaanmu dan masih sempat kamu lambaikan tangan dengan senyum tersungging manis. Aku tahu kakimu berjalan tak seringan biasa. Kamu memaksa semua bagian tubuhmu meninggalkan diriku dibelakang. Masih terekam jelas bagaimana kamu mengatakan pesan itu dengan tulus. Kamu tak kuasa menatapku hanya sekali saja dan kamu rundukkan tatapan itu. "Bagaimana bisa aku melihat mata indahmu berkaca-kaca? Kamu akan berusaha tegar tapi pancaran matamu akan lain....." kamu berkata sangat berat, "Aku tak sanggup menatap mata indahmu redup terhalang oleh air mata yang berusaha kamu tahan". Aku tak mengerti dengan perkataanmu. Mengapa harus ada air mata? Dan untuk siapa air mata itu harus mengalir? "Aku akan pergi. Aku tak bisa menjelaskan akan pergi kemana. Aku hanya berpedoman pada angin yang berhembus atas izin Tuhan...