Surat Cinta Untuk Ray - Part 2

picture courtesy of www.tersenyumlah.com



Jakarta, 6 Juli 2006

Ray, bagaimana kabarmu? Tentu kamu bahagia di atas sana, ditemani bidadari-bidadari cantik dan rupawan. Kamu juga tidak perlu menderita dan merasakan sakit lagi.

Ray, sudah 3 tahun dari kepergianmu, tapi aku tetap masih merindukanmu. Aku sudah merelakanmu pergi tapi aku tidak bisa menghilangkan ingatan tentangmu. Setiap waktu rasanya kamu selalu ada di sisiku walaupun itu hanya imajinasiku saja.

Kenapa kamu harus pergi begitu cepat Ray? Kenapa tidak menungguku pulang? Kenapa tidak mengatakannya langsung bahwa kamu juga mencintaiku?

Ray 3 tahun yang lalu setelah mendengar kabar duka tentangmu, aku seperti hilang kesadaran. Dengan panik aku mengambil penerbangan terakhir dari Melbourne. Aku terus mengatakan pada diriku sendiri bahwa itu tidak akan terjadi. Kabar duka itu hanya kabar burung saja. Tapi ternyata Tuhan tidak mengabulkan harapanku. Kamu benar benar telah pergi Ray....pergi untuk selamanya dan hanya selembar surat perpisahan yang kamu tinggalkan.

Kamu menyuruhku untuk tidak bersedih dan menangis. Tapi aku sungguh jahat bila tidak menangisi kepergianmu. Aku tidak bisa menahan air mata ini. Tidak akan ada orang yang tidak bersedih dan bercucuran air mata saat mendengar sahabatnya meninggal....

Bukan...bukan sahabat lagi....tetapi kekasih hati, seperti yang kamu sebut dalam surat itu.

Ray di satu sisi aku merasa senang karena kamu juga mencintaiku. Tapi di sisi lain, aku merasa kosong dan tak berdaya. Cinta yang selama ini aku pendam terbalas dengan ketiadaanmu. Aku benar benar hilang arah dan ingin rasanya ikut menyusul kepergianmu.

Tapi aku bersyukur melalui keluarga dan teman-teman, Tuhan mengingatkanku bahwa aku harus hidup. Bila aku menyusulmu, bukan bahagia yang aku dapat tapi kekecewaan darimu.

Ya....semua mengingatkanku untuk terus melanjutkan hidup dan mengejar mimpi mimpiku. Dan seperti pesanmu, agar aku terus bermimpi dan meraihnya. Menjadi seorang Syafira yang kuat dan mampu melangkah lebih jauh lagi.

Hari demi hari aku terus berusaha mengikhlaskanmu walaupun terasa berat. Perlahan aku mulai berjalan lagi dengan senyum yang aku harap kamu bisa melihatnya dari sana. Setiap angin berhembus, entah mengapa aku merasakan hadirmu....hingga hari ini angin itu terus memberikan nuansa kehadiranmu. Dan itu menenangkanku, Ray.

Saat aku ketakutan, sendiri dan khawatir rasanya ada yang memelukku hangat dan menghilangkan semua rasa itu. Dan walaupun aku tak bisa melihatnya...aku yakin itu kamu, Ray. Aku sangat berterima kasih pada Tuhan. Karena Tuhan mengizinkanmu untuk menjaga dan menemaniku lewat hembusan angin itu.

Ray, sampai saat ini cintaku masih di kamu. Aku belum memberikannya pada orang lain. Kamu pasti tahu kalau banyak sekali yang datang padaku untuk menjadikanku sebagai kekasih mereka. Mungkin terdengar lucu bila aku berharap kamu cemburu melihat mereka mendekatiku.

Tapi tetap saja suatu hari nanti aku harus menentukan pilihan kepada seseorang yang menjadi tambatan hati ini. Untuk saat ini masih banyak yang ingin aku kejar Ray. Mimpi-mimpiku masih berbaris rapi, mengantri untuk aku wujudkan.

Berbicara tentang mimpi, aku ingat kalau kamu ingin sekali melihat matahari terbit dan terbenam dari negara Sakura sambil meminum secangkir teh hangat. Ray, izinkan aku untuk mewujudkannya....

Semenjak hari kepergianmu, aku sudah menetapkan bahwa impianmu adalah impianku juga. Mungkin kamu lupa kalau kita pernah menulis 20 impian besar kita di agenda biru yang kita beli di toko loak. Agenda itu masih kusimpan dan hanya barisan impian-impian itu yang mengisi setiap halamannya. Tentu 20 impianku sudah bertambah lagi hingga tak ada halaman lagi yang bersisa.

Aku mewujudkannya secara acak. Dan setiap ada yang tercapai akan aku tandai "Mission Complete", serta kutuliskan tanggal terjadinya.

Tinggal tersisa 5 impian pada daftarmu dan salah satunya adalah pergi ke Jepang melihat sunrise dan sunset. Lusa aku akan terbang ke negara impianmu tersebut bersama orang tuaku, sekaligus menemui sahabat Ayah yang berada disana.

Sepulangnya dari sana akan aku oleh olehkan potret jingga dan senja ke peristirahatan terakhirmu. Aku akan mengambilnya tepat di bawah pohon sakura sambil menikmati secangkir teh harum buatan Jepang. Aku berharap angin membawa hadirmu disana. Walaupun nantinya kita tak bertatap, aku akan sangat senang, karena kita menyaksikan pemandangan itu berdua, meskipun dari tempat yang berbeda.

Ray, peluk rinduku untukmu disana. Terima kasih selalu hadir di sampingku walaupun tak bisa kurengkuh.

Kekasih hati yang selalu merindukanmu,


Syafira


To be continued....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Under the Cherry Blossom

The Time Machine

Kau Puisi