Promise

Ada satu pesan yang kuingat darimu saat tirai bambu itu perlahan kututup. Masih tergambar jelas raut sedih bahagiamu. Kamu tersenyum dibalik ketidak relaanmu dan masih sempat kamu lambaikan tangan dengan senyum tersungging manis.

Aku tahu kakimu berjalan tak seringan biasa. Kamu memaksa semua bagian tubuhmu meninggalkan diriku dibelakang. Masih terekam jelas bagaimana kamu mengatakan pesan itu dengan tulus. Kamu tak kuasa menatapku hanya sekali saja dan kamu rundukkan tatapan itu.

"Bagaimana bisa aku melihat mata indahmu berkaca-kaca? Kamu akan berusaha tegar tapi pancaran matamu akan lain....." kamu berkata sangat berat, "Aku tak sanggup menatap mata indahmu redup terhalang oleh air mata yang berusaha kamu tahan".

Aku tak mengerti dengan perkataanmu. Mengapa harus ada air mata? Dan untuk siapa air mata itu harus mengalir?

"Aku akan pergi. Aku tak bisa menjelaskan akan pergi kemana. Aku hanya berpedoman pada angin yang berhembus atas izin Tuhan. Aku hanya mengikuti setiap liku hati. Aku tak mengajakmu dan tak ingin kamu ikut. Tetaplah disini sampai aku datang menjemputmu, meminta izin kepada orang tuamu untuk mengambil alih tugas mereka. Tapi aku tak memaksamu untuk terus menungguku. Bila kamu menemukan seorang yang lebih baik dariku dan lebih mampu untuk kehidupan yang akan datang kelak. Berhentilah menungguku dan jangan pernah siakan kesempatan yang datang padamu biarpun suatu saat nanti aku pasti akan datang padamu."

Aku terdiam tak sanggup berkata. Terjawab sudah pertanyaan hati tentang air mata. Kamu berdiri tak memberi kesempatan kepadaku untuk bertanya akan kemana kamu pergi.

"Tak perlu kamu tahu aku akan kemana. Tetaplah disini, aku hanya memohon satu hal padamu," Jawabmu yang memang selalu bisa membaca pertanyaan hati ini. Demi mendengar permohonanmu, kuhentikan tangisku dan berusaha menatapmu, melawan air mata yang ingin terus mengalir.

Kamu tersenyum dan berkata lembut, "tolong doakan setiap langkahku. Dan berita apapun nanti yang akan kamu dengar tentangku...tetaplah berdoa untuk kebaikanku. Doa darimu adalah semangatku untuk melanjutkan setiap perjalanan. Dan aku berjanji akan kembali untukmu agar kelak kita bisa berdoa bersama untuk kebaikan kita.....".

Aku kembali terisak dan hanya bisa menganggukkan kepalaku. Aku memusuhi derai air mata ini yang membuatku tak sanggup mengucapkan sepatah kata perpisahan.

"Aku pasti akan kembali menjemput cinta yang telah kamu ambil dariku. Dan aku juga akan kembali untuk mengembalikan cintamu yang menemani setiap langkah kaki ini berjalan. Hapuslah air matamu. Anggaplah kita tak pernah mengenal sehingga kamu tak perlu sedih melepasku dan saat bertemu nanti anggaplah aku kawan lama yang telah lelah kamu cari sehingga kamu bisa leluasa melepas rindumu. Aku tak akan membiarkan hanya kamu yang berdoa untukku. Di tempat yang jauh dari tempat kita berdiri sekarang, aku pasti mendoakan untuk kebaikan dan kesehatanmu. Terimakasih, aku akan pergi."

Kamu memberikan secarik kertas padaku dan menyuruhku membaca saat kamu telah pergi. Kamu membalikkan badan tegapmu. Berjalan pasti walau aku tahu tak seringan biasa. Di gerbang itu kamu berbalik tersenyum hangat dan melambaikan tanganmu. Kamu tak menanti aku membalas lambaianmu. Kamu terus berjalan tanpa berbalik lagi. Aku bisa melihatnya, kamu sudah menetapkan dan memantapkan pilihan ini....pergi meninggalkanku untuk sejenak. Menjemput entah apa yang kamu cari dan akan kembali dengan apa yang entah kamu dapat.
              
***

Aku membuka lipatan kertas lusuh ini yang tulisannya pun sudah sedikit pudar karena terlalu sering kubaca.

"Aku Cinta Kamu"

Hanya tiga kata itu yang tertulis dan tiga kata itu yang selalu membuatku tersenyum bahagia setelah membacanya.

"Kamu sudah siap? Semua telah menunggu tak sabar melihat wajah cantikmu bersanding di sampingku"

Aku melipat kembali kertas itu dan tersenyum memandangnya. 

"Aku sudah tak sabar untuk mendampingi wajah tampan yang telah lama kunanti dan selalu menghias mimpiku setiap malam."

Kamu tersenyum dan meraih jemariku. Mengecupnya.

"Kutunggu di luar manis".

Kamu beranjak pergi keluar tapi bukan untuk mencari kehidupan yang baru. Ya kamu telah kembali dari pencariaanmu. Kamu menepati janji yang telah kamu ucapkan saat perpisahan itu, yang membuatku terus menangisi kepergianmu. Yang membuatku tak sanggup berkata untuk mencegahmu pergi.

Lima tahun silam telah banyak membawa perubahan padamu. Kini kamu telah mantap menatap masa depan dan membiarkankanku ikut serta mencampuri urusan masa depanmu. Doa kita bersama akan segera terwujud. Doa untuk kebaikan, kehidupan dan kesehatan yang lebih baik.

Terimakasih....Sekarang aku lebih bisa mengenalmu. Dan sekarang kamu bukan lagi kawan lamaku...Sekarang kamu adalah lebih dari seorang  pendamping....kamu adalah masa depan dan hidupku.

***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Under the Cherry Blossom

The Time Machine

Kau Puisi