Benda Mungil


picture courtesy of internet sehat.id
Di era modern ini, kita semua diperbudak oleh benda mungil, tipis, bercahaya dan enteng dibawa. Benda mungil yang bisa membawa kita menatap dunia tanpa mengujunginya. Benda mungil yang berhasil mempertemukan orang-orang yang bahkan tak pernah berjumpa sama sekali. Mereka saling berjabat semu, tersenyum, menyapa dan bercerita banyak hal tanpa berucap.

Aku juga tak percaya, bahwa aku pun juga diperbudak olehnya. Benda mati tapi seolah hidup dan dijadikan nomer satu oleh banyak orang. Benda mungil yang ketika hilang pasti akan membuat pemiliknya pusing sepuluh keliling, meronta-ronta dan berteriak seperti kehilangan anak. Benda itu bernama smartphone. Ponsel pintar pembawa kemajuan, kepopuleran, kejeniusan dan juga mala petaka.

Aku berterima kasih pada pencetusnya pertama kali. Segala sesuatu jadi lebih mudah setelah ia muncul di peradaban sekarang. Dari pertama kemunculannya, aku  sungguh mengaguminya. Menimang-nimangnya, karena aku membeli dengan jerih payahku sendiri. Mengelusnya untuk memastikan ia tak tergores benda tajam. Dan membanggakannya di depan teman-teman yang belum mempunyainya…..

Tapi sekarang…aku merasa kecanduan. Aku tersenyum pada benda mungil itu ketika ada satu kejutan yang terdapat pada aplikasinya. Aku terus tersenyum dan kadang cemberut menatapnya, walaupun benda mungil itu tak pernah tahu apa arti senyum dan cemberut.

Bukan hanya aku yang diperdaya, sekarang hampir semua orang diperdaya oleh kecanggihannya. Tak ada lagi canda tawa diantara kita, yang ada hanya canda tawa di dalam benda mungil itu. Canda tawa yang sebenarnya palsu.

Merasa bosan, muak dan ingin kujauhkan benda ini…tapi itu tak mampu kulakukan. Aku rindu suasana dimana semua asyik menyapa orang di sekelilingnya. Berkenalan dan kemudian bercerita, tertawa bahkan saling memeluk ketika cerita sedih muncul dalam cerita.

Aku rindu untuk menjelajah buku, bermain dengan kata-kata, mengkhayalkan tempat dan nuansa yang digambarkan oleh buku. Aku rindu menghabiskan waktu di depan rangkaian kalimat yang seperti tak ingin kuakhiri. Membacanya sampai habis dan mulai dengan judul yang baru lagi. Sekarang bertumpuk-tumpuk buku hanya kubeli saja tanpa menyentuh lembar-lembarnya. Ketika kubuka lembar pertama, aku melirik benda mungil itu dan ingin sekali membukanya. Dan pada akhirnya aku hanya akan bertahan pada lembar kelima, kututup dan kuraih benda mungil itu.

Melawan diri sendiri untuk tidak terus menerus memainkan smartphone, bagiku sangat berat. Tapi itu harus kulakukan! Bila aku bisa bertemu dengan presiden atau siapa pun yang sepikiran denganku. Aku ingin menyampaikan pada semua orang akan sebuah aturan baru. Aturan untuk berhenti menjadi manusia merunduk, dan mulai menebar senyum kepada siapa saja. Memulai hidup baru tanpa mengedepankan smartphonenya. Aturan yang harus dijalankan selama 12 jam dan 12 jam kemudian silahkan kembali memanjakan benda mungil itu…..

Maaf smartphone, aku bukan ingin mendiskriminasikanmu….aku berterima kasih padamu telah membantuku selama ini. Tapi aku ingin menjaga jarak denganmu, untuk kebaikan hidup ini. Tetapi tetap kamu masih akan diingat dan digunakan oleh banyak orang.

Mulai dari diri sendiri, mulai dari sekarang dan mulai dari apa yang ada sekarang!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Under the Cherry Blossom

The Time Machine

Kau Puisi