Surat Cinta Untuk Ray - Part 3


Picture courtesy of www.tersenyumlah.com



8 Agustus 2008

Ray, selama ini aku beranggapan bahwa tidak ada hari yang lebih bahagia selain hari bersama denganmu dulu. Semua hari aku lewati dengan rasa senang tapi belum bisa mengalahkan rasa senangnya saat bersamamu. Sampai akhirnya, tibalah hari ini. Hari bahagia lain yang aku rasakan seperti hari bahagia bersamamu. Bahkan aku masih tak percaya bahwa ini benar benar membuatku bahagia. 

Hari ini....hari pernikahanku, Ray. Dua tahun yang lalu, aku sudah memutuskan untuk mencoba menerima hati yang lain. Hati selain hatimu, Ray. Sulit rasanya, karena aku seperti menduakanmu. Tapi aku juga mulai bosan dengan paksaan orang orang yang menyuruhku mencari kekasih.

Belum ada yang cocok, selalu seperti itu jawabanku. Sampai akhirnya aku mengenal calon suamiku ini. Namanya Nandra, aku bertemu dengannya sebulan setelah kepulanganku dari Jepang. Dia adalah sepupu dari sahabat ayahku yang kami kunjungi di Jepang. Ayah dan Ibu terus memaksaku untuk menghubunginya. Aku tahu orang tuaku sedang berusaha menjodohkanku. Aku sama sekali tidak tertarik dengan perjodohan itu. Hingga akhirnya ayah sendiri yang menghubungi dan memintanya datang ke rumah. Tentu saja aku kaget, Ray.

Mereka bertindak tanpa persetujuanku dan aku sangat malu saat dengan tega orang tuaku mengatakan bahwa aku tidak berani menghunginya sendiri. Sehingga ayahku yang harus menghubunginya. Padahal aku tak pernah menginginkannya.

Awalnya aku selalu menghindarinya. Pura pura capek ketika dia ingin mengajakku pergi. Punya banyak acara saat dia ingin main ke rumah dan masih banyak alasan yang kukeluarkan agar dia tidak menemuiku. Tapi akhirnya pertahananku goyah. 

Di hari ulang tahunku yang 23, dia memberikan kotak musik yang sama persis dengan yang kamu berikan saat aku menginjak angka 17 tahun. Aku merasa kembali ke masa lalu, hanya saja aku tidak bisa menemukan kehadiranmu, Ray. Selain orang tuaku, hanya kamu yang tahu bahwa aku pencinta kotak musik.

Setahun sekali aku akan membeli kotak musik yang baru dan mendengarkannya sebelum tidur. Tapi sudah 5 tahun aku tidak menambah koleksi kotak musikku. Kotak musik terakhirku adalah kado yang kamu berikan Ray. Setiap malam aku hanya akan mendengarkan kotak musik pemberianmu. Aku tidak berniat membeli yang baru. Karena aku ingin terus menyimpan kenangan tentangmu.

Nandra sungguh tidak tahu tentang kotak musik darimu, Ray. Ayah hanya pernah memberitahunya bahwa aku suka mengoleksi kotak musik. Dan tanpa sengaja dia memberikanku kotak musik persis seperti punyamu, Ray. Kotak musik berbentuk bola kristal yang di dalamnya diselimuti bintang-bintang dan akan bersinar saat dibunyikan. Bahkan kata-kata yang diucapkan Nandra sama persis seperti kata-kata yang kamu ucapkan saat memberikanku kado, "karena kamu seperti bintang di hatiku."

Ray, dua hari setelah hari kepergianmu, aku berusaha untuk tegar dan tidak akan mengeluarkan air mata lagi. Aku tahu, kamu tidak ingin melihatku larut dalam kesedihan. Tapi hari dimana Nandra memberiku kado adalah hari aku kembali menangis kehilanganmu, Ray.

Hari itu aku kembali membuka cerita lama kita pada orang yang sejujurnya tak kuharapkan. Nandra memelukku dan menenangkan. Dia ingin mengambil kadonya lagi bila aku tak mengharapkannya. Tapi aku menghargai sikapnya sehingga aku tetap menyimpannya dan selalu kumainkan bersama dengan punyamu, Ray. Aku senang mendengar alunan melodi yang beriringan itu hingga membuatku lelap tidur.

Semenjak hari itu, aku mulai sedikit membuka ruang untuk Nandra. Aku mulai menyukai caranya bercerita, bercanda dan tertawa. Rasanya aku seperti menemukanmu kembali Ray, tapi dengan sosok yang lain. Walaupun banyak perbedaan diantara kamu dan Nandra tapi aku merasa kalian seperti saudara yang terpisah. Entahlah, kenapa aku berpikir seperti itu. Aku merasa kalau kamu pun juga senang dengan sosok Nandra. Karena setiap aku bersamanya, angin seperti menari melihat kedekatan kita.

Dua tahun mengenal Nandra, rasanya cukup untuk melepas kesendirianku. Mulai menata masa depan bersamanya dan mewujudkan impianku yang masih saja terus bertambah daftarnya.

Ray, Nandra janji akan selalu menemaniku mengunjungi pemakamanmu. Dia tidak marah bila aku menceritakan tentangmu. Mengajaknya ke tempat dimana kita selalu menghabiskan waktu bersama. Bahkan dia mulai menyukai apa yang kamu dulu suka.

Tapi aku tidak mencintai Nandra hanya karena kemiripan denganmu atau usaha dia menerima masa lalu tentang kita. Aku mencintainya karena bersamanya aku merasa aman, nyaman dan dia terus membangkitkanku untuk terus bermimpi. Mengajakku untuk terus melihat sisi-sisi kehidupan lain yang belum terjamah olehku. Membuatku melambung dengan khayalan-khayalan masa depan yang indah. Nandra mengisiku hatiku bukan hanya dengan cinta tapi juga sebuah harapan indah tentang masa depan.

Cintaku padamu tidak akan pernah padam Ray. Nandra akan menjagaku seperti kamu menjagaku bila kamu ada di dunia ini. Aku juga merasakan kebahagianmu, Ray. Aku tahu kamu akan mengantarku ke atas pelaminan dengan tersenyum bahagia. Tugasmu akan berkurang dengan hadirnya Nandra. Dan aku yakin, Nandra adalah sebuah permintaan yang kamu minta pada Tuhan untuk mendampingiku sampai akhir nanti.

Ray terima kasih untuk semuanya. Aku dan Nandra selalu mencintaimu.


Kekasih hatimu yang sedang berbahagia,


Syafira


To be continued...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Under the Cherry Blossom

The Time Machine

Kau Puisi