The Distance
Bagaimana perasaanmu ketika harus berpisah dengan seseorang yang kamu sayangi? Padahal dia selalu ada untukmu. Dia adalah tempat untuk mengungkapkan segala perasaan, seperti rumah untuk menghempaskan semua kelelahan. Kamu pasti akan merasa sedih, kesal, menangis dan serasa kehilangan sebagian dirimu. Namun percayalah, mau berusaha sebaik apapun, bila dia atau kamu harus pergi maka tak ada yang bisa menahannya. Kepergiaan tersebut bukan untuk selamanya, pasti ada saat dimana kalian akan saling menyapa, memeluk, tertawa, terharu dan bahagia bersama lagi.
Saat-saat untuk bersama kembali ada yang bisa diprediksi namun kadang juga tidak terprediksi. Bisa hanya dalam hitungan hari, bulan bahkan tahun. Bisa berjarak antar daerah, kota, pulau bahkan benua. Perpisahan memang terasa menyakitkan. Kita akan didera rindu yang begitu parah dan dihantui kenangan-kenangan tentangnya. Dan sekali lagi kita tidak bisa mencegah siapapun pergi, kita hanya bisa berdoa untuk kebaikan dan kebahagiaannya.
Di zaman yang serba canggih ini sebenarnya kita sudah dimudahkan dengan berbagai fasilitas smartphone untuk saling bertukar kabar. Kita harus bersyukur masih bisa mendengar suaranya lewat telepon, mengetahui aktivitasnya di sosial media dan bertatap muka di video call. Walaupun keinginan untuk bertatap muka secara langsung sangat kuat, setidaknya rindu kita sedikit terobati dengan menatapnya di layar monitor.
Tahukah kamu bahwa sebenarnya perpisahan memiliki arti yang begitu dalam. Bukan hanya sekedar memisahkan orang yang saling menyayangi, namun perpisahan mengandung pelajaran yang sangat berarti.
Seseorang yang mungkin berpisah denganmu bisa seorang kekasih, bisa juga orang tua, teman, sahabat dan siapapun yang selalu ada di hatimu. Kamu sayangi dia dengan tulus dan kamu juga berani berkorban untuknya. Namun bagaimana kalau seseorang yang dimaksud adalah orang tua? Bagaimana perasaanmu bila kamu harus pergi jauh dari orang tua yang telah melahirkan, membesarkan dan mendidik kamu sedari kecil?
Ada sedikit cerita tentang teman yang sangat aku kenal. Dia sebenarnya bukanlah tipe orang yang sangat terbuka pada siapapun, termasuk pada orang tuanya. Dan dia juga sangat acuh dengan keadaan sekitar. Namun sebuah perpisahan mampu merubahnya menjadi orang yang lebih peduli.
Dia berpisah dengan orang tuanya ratusan kilo meter untuk mengejar impiannya di ibu kota. Tidak ada hari dimana dia tidak merindukan orang tuanya. Padahal dulu ketika dia masih tinggal bersama keluarganya, dia bertindak semaunya saja. Dia yang merasa masih muda dan bebas, lebih suka berkumpul dengan teman-teman dibandingkan harus di rumah membantu orang tuanya. Nasehat-nasehat Ayahnya hanya di-iyakan tanpa benar-benar dipahami dan dilakukan. Dia merasa sudah dewasa dan tidak memerlukan bantuan ketika ibunya dengan tulus ingin membantunya. Ketika adik-adiknya ingin bermain atau mengobrol bersama, dia berusaha mengacuhkan dan sok sibuk. Padahal dia tahu keluarganya sangat menyayanginya, namun dia melakukan sebaliknya.
Dan sekarang di ibu kota, dia menemukan banyak teman dan hiburan. Tetapi bukan kesenangan yang dia dapat melainkan kekosongan. Dia menderita kerinduan yang akut pada keluarganya. Hampir setiap malam dia menangis merindukan mereka. Sebelum meninggalkan keluarganya, dia yakin bahwa bisa memenuhi kehidupannya dengan baik. Dia tidak takut dengan berita-berita negatif yang disiarkan di TV tentang kerasnya ibu kota. Hari berganti bulan dan bulan pun berganti tahun. Kini sudah genap 2 tahun dia tidak bertemu keluarganya.
Pada akhirnya dia sadar bahwa kenyataan tidak selalu sama dengan harapan. Dia selalu menganggap semuanya akan mudah walaupun harus berjuang sendiri. Tetapi dia mulai kewalahan dengan masalah-masalah yang mendatanginya. Setiap perjuangan mencapai impian pasti selalu diselimuti tantangan, kesulitan dan pengorbanan. Dia hampir menyerah dan memutuskan untuk kembali pulang. Tetapi dia ingat Ayahnya pernah mengatakan bahwa tidak ada masalah yang terlalu besar bila kamu selalu yakin terhadap kebesaran Tuhan.
Dia pun berdiri lagi, mencoba lagi, berdoa lagi, jatuh lagi dan terus berdiri lagi. Dia tidak ingin pulang dengan tangan kosong. Apalah arti perjuangannya semua ini bila berhenti di tengah jalan. Hingga akhirnya dia sampai pada satu titik yang membuatnya sadar bahwa perpisahan dengan orang tuanya bukan hanya sekedar untuk mencapai impian.
Dia menyadari bahwa telah melakukan kesalahan besar terhadap orang tuanya. Selama ini dia tidak mau tahu bagaimana kerja keras ayah dan ibunya untuk membiayai pendidikan dia dan adik-adiknya. Yang dia tahu ketika membutuhkan sesuatu, orang tuanya akan berusaha memenuhinya. Dan sekarang dia tahu bagaimana rasanya berjuang seorang diri untuk bertahan hidup dan meraih sebuah impian.
Banyak pertanyaan yang berkecamuk di hatinya. Bagaimana orang tuanya tidak pernah menyerah? Masalah apa saja yang orang tuanya alami? Apakah kesehatan mereka benar-benar baik? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang ingin dia tanyakan. Dia merasa bahwa selama ini tidak mengenal orang tuanya dengan baik. Jarak mengajarkan banyak hal padanya, bukan hanya tentang arti berjuang namun juga bagaimana menumbuhkan sikap peduli terutama pada keluarga. Pelajaran tersebut tentu tidak akan dia dapatkan bila masih tinggal bersama keluarganya.
Sekarang dia berusaha memperbaiki hubungannya dengan orang tua dan adik-adiknya. Walaupun jarak masih memisahkan, dia tetap memberikan cinta dan perhatian yang lebih untuk keluarganya. Keinginannya sangat sederhana, yaitu melihat orang tuanya tersenyum bangga ketika melihatnya sudah mandiri dan mencapai impian-impiannya.
Dengan senang hati dia memberitahuku pelajaran-pelajaran berharga yang dia dapat dari sebuah jarak, bacalah dengan mengganti “dia” dan “nya” dengan kata orang tua / saudara / sahabat / teman / kekasih / orang yang sangat kamu sayangi.
Pelajaran pertama – Kamu boleh menangis saat mengucapkan salam perpisahan padanya. Tetapi kamu harus kuat untuk meneruskan hidup tanpanya.
Pelajaran kedua – Kamu akan lebih dekat dengan Tuhan, karena kamu akan selalu mendoakan kesehatan, kebaikan dan kebahagiaannya. Dan kamu juga akan memohon pada Tuhan untuk selalu menjadi orang yang kuat agar dia tidak khawatir padamu.
Pelajaran ketiga – Bila dia selalu ada untuk membantumu, kali ini kamu harus melakukannya sendiri. Berlatih untuk hidup mandiri dan tidak merengek pada orang lain.
Pelajaran keempat – Hanya kamu yang bisa menentukan bagaimana jalan cerita kehidupanmu. Bukan orang lain dan juga bukan dia. Jadi kamu berusaha membuat keputusan yang terbaik dan bertanggung jawab atas setiap keputusan.
Pelajaran kelima – Kepercayaan dirimu akan meningkat seiring berjalannya waktu karena berusaha untuk menjadi seseorang yang lebih baik melalui keputusan yang kamu ambil. Dan ketika bertemu lagi dengannya, kamu ingin melihat rasa bangga terukir di wajahnya saat melihat perubahan positif yang kamu lakukan.
Pelajaran keenam – Di suatu keadaan terkadang kamu akan menyadari bahwa ternyata kamu masih belum banyak mengenalnya dan saat bertemu kembali kamu ingin lebih dekat dengannya.
Pelajaran ketujuh – Kamu merasa bahwa selama ini dia sangat peduli padamu dibandingkan kamu peduli padanya. Dan saat bertemu kembali, kamu ingin mempedulikan dan membahagiakan dia lebih dari siapapun.
Pelajaran kedelapan – Kamu akan merasakan bahwa dia benar-benar mencintaimu dan menaruh kepercayaan besar padamu. Rasa cintanya tak tertandingi. Dia selalu yakin bahwa kamu akan menjadi yang terbaik.
Jarak bukan penghalang untuk tetap saling mencintai dan peduli satu sama lain. Jarak memberikan kita kesempatan untuk membuktikan seberapa besar cinta, kesetiaan, ketulusan dan kepercayaan pada orang-orang yang kita cintai. Syukuri setiap jarak yang ada, karena jarak membuat kamu berkembang menjadi lebih baik.
Walaupun nantinya kita akan bertemu dengan sebuah perpisahan yang abadi, yaitu ketika jarak tidak bisa ditembus lagi. Semua orang akan mengalami perpisahan abadi itu, namun hanya Tuhan yang tahu kapan waktunya. Berjanjilah pada diri sendiri ketika waktunya datang, tetaplah kuat dan terus melakukan yang terbaik!
Sekarang bila kamu masih bisa bersama dengan orang-orang yang kamu cintai, terutama orang tua. Cintai dan bahagiakan mereka. Jangan kecewakan mereka dan percayalah mereka sangat percaya pada kemampuanmu. Mereka ingin melihatmu meloncat tinggi menjadi seseorang yang bermanfaat bagi bumi ini. Selamat berjuang! :)

Komentar
Posting Komentar